ULASAN ANDRY CHANG DI TAMU FEBRUARI KPPK


23 Feb 2015 - "Tidak ada penulis yang langsung menghasilkan karya hebat di draft pertama, kecuali dia itu super-duper berbakat, 1 dari berapa puluh juta orang. Just follow your mind, heart and passion. Terus terang, dari puluhan cerpen dan beberapa novel yang saya tulis, tanggapan orang beda2 semua. Ada yang bilang karyaku yang "AAA" super keren, ada juga yang bilang "AAA" super jelek, super klise dsb. Tulis aja apapun yang muncul di benak kamu. Biarkan orang mau bilang apa. Siapa tahu 1 dari 100 karya atau 1000 karya kita ada yang bisa bersinar terang sekali. Seperti biblioku, baru 1 novel saya yang terbit secara major, padahal saya sudah rampungkan 6/7 novel, but it won't stop me." Begitulah ungkapan beliau dalam obral ngobrol Tamu Februari kemarin.


Acara online berjalan menuju puncaknya, ramai dan banyak pertanyaan. Hingga om Andry lumayan kualahan. Haha. Kosekuen narasumber om. Oke lanjutin yang postingan TAMU FEBRUARI KPPK - ANDRY CHANG tadi.


Point penting yang harus dimiliki seorang penulis pemula itu apa, kak? - Seperti yang kakak bilang tadi, ada kalanya kita merasa nggak berani untuk memulai. - Jawabannya singkat aja : Kenali diri kita sendiri. Kenali apa kelebihan kita, skill set, bakat dan hobi yang selama ini kita jalani. Kalau misalnya saya modalnya adalah IMAJINASI, hobi gambar dan nonton, suka pelajari sejarah dsb. Kalau saya ingin coba garap genre romance, mungkin saya harus coba melatih diri di bidang EMPATI, sering2 curhat dengan orang lain, pacar dsb. Nah, apa modal kalian? Jawab sendiri2 yah, kalau perlu ditulis aja supaya ingat terus.


Cara menulis sinopsis
novel tuh gimana ya?
- Sinopsis novel itu kayak semua isi cerita itu dirangkum jadi bentuk pendeknya. Tetap perlu latihan supaya bisa menjabarkan tema / gambaran umum novel itu supaya menarik. Kalau lebih dari 3 halaman, tulis sekali lagi dengan lebih fokus pada tema cerita, konflik utama dan masalah paling mendasar saja. Jangan beritahu "solusinya". Seringlah baca dan lihat sinopsis belakangnya, jadi kamu terlatih dan bisa bikin sinopsis yang singkat, tapi padat.


Bagaimana caranya memberikan deskripsi latar/ setting kepada pembaca tanpa banyak telling (menjabarkan melalui detail yang ada)? - Dulu ya, ini problemku sejak awal, teori SHOW, DON'T TELL. Mungkin masih saya idap sekarang. Saya coba eksperimen dengan menjabarkan sedikit-demi-sedikit gambaran tentang tokoh, background dsb sambil ceritanya jalan. Misal si tokoh melihat gadis itu cantik, lalu menyusuri padang luas penuh bunga menghampirinya. Tunjukkan (show) suasana sekitar dan para tokoh yang berinteraksi dengan deskripsi. (Nah ini masalahnya tentukan kadarnya bagaimana - tidak ada patokan pasti) Terus bangun suasana lewat dialog atau aksi, tergantung adegannya. Kalau imajinasi terlatih, coba bayangkan seluruh adegan itu seperti film dalam otak kita, putar ulang seperti kita jadi sutradara/editor, tentukan mana yang cocok lalu coba "terjemahkan" bahasa "gambar" itu dalam tulisan. Kalau tipe logika lagi2 pakai skema saja.


Bagaimana cara membangun konflik om Andry? - Biasanya mulai dari basic dulu yaitu persoalan-konflik-pemecahannya saat bikin plot konflik bisa ditentukan apa bakal taruh halangan2 supaya konfliknya lebih kompleks. Kalau susah lewat imajinasi, bikin skema dengan LOGIKA, dan semuanya akan terpasang. Tentunya di akhir sekali lagi butuh LATIHAN & EKSPERIMEN yang banyak.


Dalam menyelesaikan satu karya, apakah kakak tentukan time limit, tekhnik hukuman jika sehari tidak menulis , ketika lagi banyak pikiran menulispun jadi nggak fokus, tips atau kiat yang sering kakak lakukan seperti apa? - Justru saya menghindari cara memecut diri dengan hukuman seperti itu. Terus-terang, saya kurang suka kalau menulis berdasarkan deadline. Menulis itu seni dan kita ini termasuk seniman, atau lebih tepatnya sastrawan. Daripada memaksa diri dengan hukuman, lebih baik memotivasi diri dengan hal-hal positif seperti jawaban-jawaban saya di awal2 tadi, terutama saat idenya buntu banget. Find time to practice, play with your imagination. Dan tanpa sadar, tahu-tahu sudah beberapa karya yang rampung.


Aku ada masalah nih, karena gak sabaran nulis novel, bab 4 belum selesai, sudah nulis bab 5, sampai ending begitu. Setelah mau perbaiki ulang, eh bosan duluan. Naskahnya masih bolong sampai sekarang. Ada saran? - Coba baca lagi novelmu dari bab 1 sampai selesai, sekalian bayangkan itu seperti film dalam otak kamu. Kalau sudah begitu tapi kamu terlanjur bosan, kamu bisa pilih untuk tambal saja bab 4 berdasarkan logika, refreshing dengan melakukan hal-hal lain dulu, diskusikan dengan teman atau coba eksperimen dengan bikin cerpen2/ garap ide baru dulu. Kalau semua itu masih gagal juga. Well, u have a serious problem of passion yang hanya diri kamu sendiri yang bisa atasi. Saya tidak tahu novel yang kamu garap itu tentang apa temanya. Jadi hanya kamu yang bisa cari tahu kenapa sampai bosan dengan karya sendiri. Itu terus terang sudah lampu kuning tanda bahaya lho. Worst case, terpaksa kamu selesaikan saja cepat2 dengan logika dan garap ide2 lain. Begitu ada ide2 fresh baru, kamu bisa pilih utk pakai ide itu di novelmu yang "membosankan" itu.


Oke saya rangkum saja kesimpulannya ya. Terus terang, jadi penulis itu pilihan yang sama sekali tidak mudah, apalagi diseling dengan profesi-profesi lainnya yang menuntut lebih banyak waktu dan curahan pikiran. Dan jadi penulis full-time itupun sangat sulit, karena harus sangat produktif dan hasilnya sudah pasti bisa diterbitkan. Hanya segelintir orang yang bisa full-time penulis, dan saya bukan salah satu di antara mereka walaupun frekuensi menulis saya sendiri hampir setara full-timer.


Jadi, buat semua yang ingin jadi penulis, baik sekedar hobi, freelancer ataupun full-timer, yang terpenting adalah kenali diri kita sendiri, lalu pilih genre spesialisasi kita berdasarkan modal kita itu. Yang kedua dan tak kalah pentingnya, cobalah berusaha untuk cari waktu untuk terus berlatih dan bereksperimen dengan ide2 baru. Teori menulis banyak sekali, tapi tetap saja jalannya harus terus berlatih dan bereksperimen. Jangan takut gagal. Percayalah, dari sekian banyak hasil eksperimen itu akan ada beberapa pesan kita itu yang tersampaikan pada sebanyak mungkin pembaca.


Nah begitulah jalan ceritanya. Cerita saya saat mengikuti Gathering di grup KPPK (Komunitas Pembaca & Penulis Keren). Semoga bermanfaat ya. Sekian dan terima kasih.

Comments